Sufisme Politik Gus Dur

oleh Nuruddin Udien Hidayat pada 17 Februari 2012 pukul 19:53 ·

 (Tanggapan untuk artikel Al-Qadim al-Shalih dari Gus Dur)

Oleh : M. Luqman Hakiem

 Kaidah-kaidah visioner yang sering dilontarkan oleh kalangan Nahdliyyin (NU), sebagaimana direkonstruksi oleh Suadi Putro dalam harian ini (19 Juli 2001), adalah Al-Muhafadzatu ‘alal Qadimis Shalih wal-Akhdzu bil Jadidil Aslah, yang berarti melestarikan nilai-nilai tradisi lama yang baik, dan merespon nilai-ni-lai baru yang lebih baik. Kaidah yang dijadikan sebagai legitimasi untuk pe-rubahan-perubahan wacana dan kebudayaan NU, ketika menghadapi tantangan zaman. Sesungguhnya kaidah tersebut lebih menekankan pola hubungan-hubungan transformatif Syari’ah (legacy)dalam membangun kerangka sosiologis. Di satu sisi tetap memberikan penghargaan terhadap sejarah masa lalu, makna-makna kultural yang telah dibangun oleh para pendiri re-publik, para kiai, para agamawan dan para budayawan. Sementara dalam dialektika sejarah, tidak bisa dihindari adanya percepatan rasionalisme Barat dan akulturalisme antara Islam dan nilai-nilai lokal. Sehingga responsi terhadap pembaharuan mendapatkan tempat terhormat dalam kebudayaan pemikiran NU. 

Tulisan ini lebih sedikit melompat ke belakang, tanpa harus memutar jarum jam sejarah kebudayaan NU, yaitu perspektif yang lebih fundamental dibanding sekadar kaidah-kaidah sosial dan hukum (fiqhiyah) yang selama ini dijadikan basis kebijakan untuk pengambilan keputusan konstituen NU, melalui Bahsul Masail. Yaitu, perspektif sufisme yang menjadi jiwa dan batin setiap gerakan historis masyarakat NU itu sendiri. 

Dari sinilah kita akan melihat kepribadian kepemimpinan Gus Dur, yang merefleksikan cara pandang sekaligus style kepribadian yang unik. Bahwa apa yang dipresentasikan Gus Dur adalah kristalisasi dari seluruh nilai-nilai ke-NU-an dalam proses kebangsaan, khususnya dalam konstelasi demokratisasi. Bisa saja nilai-nilai seperti pengembangan pluralisme, toleransi, desakralisasi negara, hubungan antaragama, modernitas dan tradisi lokal, serta perdamaian, hanya akan muncul dalam wacana dan “kepen-tingan” praktikal, manakala tidak dijembatani oleh kultur yang berbasis pada moralitas tertinggi. Karena itu, Sufisme menjadi nuansa yang paling menarik perhatian Gus Dur untuk dijadikan “titik koordinat” antara nilai-nilai keagamaan dalam tradisi NU dan fakta-fakta keindonesiaan yang plural dalam berdemokrasi. Sebagai salah satu tokoh sufi di Indonesia, Gus Dur memerankan satu pandangan yang sangat liberal, dibanding– sekadar– berpijak pada tradisi-tradisi formal NU. Liberalitas Gus Dur sesungguhnya tidak lepas dari cara pandang sufisme terhadap dunia, dengan menerjemahkan lebih substansial apa yang disebut dengan “rahmatan lil’alamin”. Karena, transformasi nilai-nilai terdalam di balik cahaya rahmat itu sendiri, dalam tradisi NU justru tumbuh dari cahaya sufisme yang dijadikan sebagai pegangan moral para ulama dan kiai-kiai terdahulu. Bahkan titik koordinat bagi perdamaian agama sekalipun, sufisme berada di garda depan, sebab perda-maian sesungguhnya tidak pernah terwujud dalam fakta ketika kecintaan kepada Tuhan dan sesama makhluk tidak tumbuh dari kedalaman jiwa. 

Karena perilaku Sufistik itulah, Gus Dur menjadi ancaman bagi seluruh gerakan apa pun yang tidak memihak pada moralitas terdalam. Ketika kebijakan-kebijakan “kesufian” masuk dalam pola kepemimpinannya, maka terjadi benturan-benturan psikologis dengan nuansa-nuansa penyimpangan moral itu sendiri. Karena itu, ketika kita kembali ke masa lalu, kita akan menemukan fakta-fakta sejarah bahwa eksistensi Indonesia, baik sebagai negara maupun sebagai bangsa, akan terlihat bahwa nation building mendahului state building. Dengan bahasa lain, kultur kebangsaan kita telah terbentuk sebelum negara ini terbentuk. 

Dari sinilah, sehari-hari kita bisa merasakan betapa hubungan-hubungan antar sesama dalam bentuk “rasa batin” mendahului segala hubungan, dari sekadar kepentingan rasional dan teknikal. Bahkan dalam tradisi sosial keagamaan sekalipun, landasan-landasan batiniyah ternyata lebih kuat jaringan kebudayaannya dibanding dengan landasan-landasan ritus-formal. Kelak, landasan-landasan ini begitu kuat tarik-menariknya dalam pergulatan politik elite yang memperebutkan hegemoni kebudayaan keagamaan dalam instrumen kekuasaan. Maka, ja-ngan heran jika tarik-menarik itu se-cara verbal tampak dalam konflik politik NU—Muhammadiyah, adalah konflik memperebutkan “kekuasaan nilai” yang harus hegemonik dalam ke-hidupan bangsa dan ummat. Yaitu, pe-rebutan formalitas agama dalam kons-telasi bernegara, sehingga bendera-bendera Islam diformalkan dalam partai, slogan dan konstitusi vis a vis kultur “moralitas agama” untuk kebangsaan, di mana kultur agama mendasari perilaku bernegara. 

Tradisi Wali Songo yang sering dijadikan acuan dakwah NU misalnya, adalah tradisi sufistik budaya, bahkan dalam pola akulturasi antara kekuasaan formal dan kebudayaan lokal. Ka-lau tradisi “halal-haram” diterapkan begitu saja dalam formalitas budaya, agama akan mengalami keterasingan dan kekeringan. Karena itu, para wali memilih jalan sufistik menuju Tuhan, bahkan dalam konstribusinya terhadap pengelolaan kekuasaan di zaman dinasti Islam awal di Jawa, ketika secara de jure Raden Fattah menjadi raja, dan secara de facto para wali-lah yang memimpin spiritualitas bangsa ketika itu. 

Demokrasi dan Sufisme 

Di sinilah sufisme menjadi penghubung efektif, ketika demokrasi diterjemahkan dalam hubungan saling menghargai di tengah pluralitas yang sedang bergerak. Sebab, kebebasan, penghargaan terhadap hak-hak kema-khlukan, kecintaan sesama, kehamba-an individu, dan sejumlah nilai-nilai yang bisa mempertemukan perspektif bersama hanya pada sufisme. Sebab hanya sufisme-lah yang melihat dua titik pandang: Allah dan manusia. 

Pandangan-pandangan sufistik itulah yang melampaui “halal-haram”, sehingga hubungan kebangsaan tidak dihorisonkan pada belahan-belahan yang saling berhadapan, hitam dan putih. Di sini, jika tidak kita cermati, lompatan-lompatan pemikiran Gus Dur terasa konstroversial, karena di satu sisi ia harus menjadi Kiai Bangsa, di lain sisi ia harus menjadi Presiden. Posisinya sebagai Kiai Bangsa adalah posisi sufistik dalam membangun ke-arifan hidup bersama, sementara tugas-tugas formal kepresidenannya, jelas berhubungan dengan amanat yang dilimpahkan oleh MPR kepadanya. Namun, ketika posisi Kiai Bangsa dinilai lebih menonjol ketimbang kepresidenannya, tiba-tiba gugatan-gugatan muncul sampai pada titik paling kritis. Suatu gugatan “halal-haram” dari lawan-lawan politiknya. 

Mengapa Gus Dur lebih banyak menonjolkan Kiai Bangsa ketimbang kepresidenannya? Karena kebutuhan bangsa saat ini bukanlah kebutuhan formalitas dan “topeng-topeng” dibalik birokrasi dan penyelenggaraan negara. Setelah tiga dasawarsa bangsa ini dibelenggu oleh formalisme dan ritualisme monopolitik, maka pertama-ta-ma bangsa ini membutuhkan pencerahan jiwa agar bisa kembali ke fitrah ke-bangsaannya. Tanpa kesadaran psikologis akan hakikat berbangsa, demokrasi akan gagal dibangun, apalagi oleh sekadar mayoritas dan minoritas dalam perolehan suara, menang dan kalah belaka. 

Berarti, Gus Dur tetap mengambil wilayah hati nurani, untuk menjadi ji-wa demokrasi. Disebut hati nurani di sini, bukanlah ambisi-ambisi batin yang diaksentuasikan dalam jeritan protes atau pemberontakan rasional. Protes-protes apa pun namanya, selalu merujuk pada ketidakadilan. Tetapi penegakan keadilan belaka, ternyata tidak cukup untuk menegakkan rumah kebangsaan. Karena pondasi rumah kebangsaan kita adalah cinta dan kasih sayang, bukan keadilan. Kasih sayang atau rahmat, ketika diimplementasikan dalam proses berdemokrasi, akan melahirkan penghargaan terhadap pluralitas secara adil dan egaliter. Sementara penegakan keadilan tanpa rahmat, hanya melahirkan kemenangan penuh dendam. 

Inilah yang ingin dihindari Gus Dur, ketika mengadili Soeharto, jangan sampai timbul rasa dendam terhadap tokoh Orba tersebut. Sebab siapa pun merasa tidak mendapatkan ketidakadilan ketika ia harus dihukum, namun harus pula menerima dendam kemanusiaan. 

Dalam kisah legendaris, yang dipresentasikan secara dramatis antara Sunan Kalijogo dengan Syeikh Siti Je-nar, terpantul suatu cerminan, bahwa eksekusi terhadap Syeikh Siti Jenar, sedikit pun tidak mengurangi rasa cinta Sunan Kalijogo terhadap kawannya itu. Karena, sesungguhnya jiwa dan hati Sunan Kalijogo dan Syekh Siti Jenar berada dalam dataran yang sama. Dan sebaliknya, sikap demokrat sejati Syeikh Siti Jenar yang secara “berani” menghadapi eksekusi, adalah karena penghargaannya terhadap konstitusi dan hukum para wali. 

Maka, di dalam drama eksekusi tersebut, prosedur-prosedur formal tidak boleh mengintervensi aturan-aturan jiwa yang menjadi batin dari suatu keputusan. Karena intervensi rasionalisme terhadap spiritualisme bisa melahirkan emosi-emosi negatif, sebaliknya intervensi spiritualisme terhadap rasionalisme bisa melahirkan klaim-klaim sakralisme dalam bentuk sekularisme yang maniak. Oleh sebab itu, dendam terhadap tokoh yang bersalah, bisa disebut sebagai “dosa demokrasi” ketika penegakan hukum sebagai salah satu elemen demokrasi, justru ditaburi oleh “balas dendam”. Sementara fakta yang kita lihat dalam proses demokratisasi kita, justru ada elemen lain yang ditolerir dalam proses penegakan hukum, yaitu proses dendam sejarah. Kenyataan ini menunjukkan adanya pertanyaan besar yang belum dijawab oleh mereka yang ingin menegakkan demokrasi itu sendiri. Nilai-nilai dan roh demokrasi model apakah yang hendak ditegakkan bagi demokrasi Indonesia? 

Sebagai suatu wacana, sufisme bisa disebut sebagai wacana baru bagi proses penegakan wacana kedemokrasian kita. Walau pun begitu setidak-tidaknya kita melihat sebagian praktik sufisme bagi demokrasi itu ada dalam perilaku kepemimpinan Gus Dur. Terlepas suka maupun tidak, sangat tidak demokratis manakala kita bersikap apriori begitu saja terhadap gerakan Demokrasi Gusdurian, sebelum kita memahami secara tulus apa dan siapa Gus Dur dalam konteks kebudayaan dan hakikat-hakikat keagamaan.***

 

Penulis adalah Sufiolog dan Pemred Majalah Sufi, tinggal di Jakarta)

 

 

Dialog Imajiner dgn Gus Dur : NH :Tak terasa sudah tiga kali puasa sudah tidak bersama njenengan, tiga kali puasa juga tidak ngaji di Masjid bersama njenengan, dan sebentar lagi tiga kali lebaran tidak bersama njenengan Pak. GD : la kok malah seperti lagunya Bang Toyib NH : He….he……Sekarang rutin 2 hari sekali yang ngisi mas Lukman Pak ( KH. Lukman Hakim, MA ) ngaos kitab “Al-Qosdul Mujarrod fii Ma’rifati ismil Mufrod ” karya Ahmad ibn Athoillah As-Sakandari NH : Semalam ada sweeping di daerah Bintaro pak, yang melakukan mengatas namakan ormas Islam cuman belum tahu Islam yg mana? GD : Paling ya sama dengan yang dulu-dulu NH : tapi di bulan Puasa tahun ini agak lumayan pak tidak banyak sweeping seperti tahun2 lalu. GD : kan baru minggu pertama puasa. Mereka lagi ngukur keseriusannya polisi, serius apa tidak dengan apa yg pernah diucapkan Kapolda Untung Rajab yang akan menangkap siapapun yg melakukan sweeping di bulan puasa. Kalo Polisi tegas menindak yg melakukan sweeping apalagi yg bertindak anarkis mereka juga takut, karena memang mereka bukanlah Patriot/pejuang agama yg sebenarnya. Apa mereka semua sudah siap Puasa dan lebaran di dalam Sel tahanan?

Tentang interpreneur 2012

Curiculum Vite / Ikhtisar Riwayat Hidup Nama Lengkap : Makinuddin Nama Panggilan : Makin Alamat rumah tinggal : Jl. Gotongroyong RT04 RW02 Jetakngasri MulyoAgung-Dau- Malang Alamat KTP : Jl. KH. Hasyim Asy’ari VI/1386. RT 06 RW 05 Kauman Klojen-Malang Telp & HP : 0877.5961.0020/ 0852-3496-4872 & 0341-8441973 Nama Orang tua : Moch. Ihsan (Alm) & Siti Halimah Alamat Orang tua : RT 03 RW 01 Juwah Siman Kepung-Kediri Susunan Keluwarga : Anak ke-6 dari 7 bersaudara : 1. Moch. Ishom,MPd 2. Miftakhurrohmah : Guru SDN Catak Gayam Mojowarno-Jombang 3. Nikmatur Rofi’ah : Guru TK di Kayen Lor Papar-Kediri 4. Moch. Imron,Drs : Guru MTS Nabatul Ulum Kediri. Pedagang 5. Tsamrotul Fiqoyah : Swasta di Kediri 6. Makinuddin : - 7. Ibnu Mundzir,SS : Guru PNS MAN Godang Legi, Dosen UIN-Malang Tempat, Tanggal lahir : Kediri, 01 November 1973 Bahasa yang di kuasai : Indonesia, jawa ngoko, Arab ( Membaca, sedikit lisan dan tulisan) Agama/Suku/Warga : Islam/Jawa/Warga Negara Indonesia NPWP : 25.427.693.4-652.000 No. K.T.P /dikeluarkan : 3573.020111.73 0006/pemkot Dati II Malang Maret 2009 No. S.I.M.C /dikeluarkan : 73111.525.0909/polresta Malang Oktober 2012 No. S.I.M.A /dikeluarkan : 73111.525.0922/polresta Malang Desember 2012 No. Paspor /dikeluarkan : T-966669 / Imigrasi Malang Oktober 2009 Status Pernikahan : Menikah, ( Istri: Miftakhul Karomah,SAg ) Dengan 4 anak: 1. Alif Abd. Rohim, 13 Oktober 2002, 2. Syifa Nazzila A., 15 Agustus 2003, kelas V SD ArRohmah Sumbersekar-Dau 3. Khilfa Wajihan A., 12 September 2004, kelas III SD Alam ArRohmah Putri Dau 4. Tudhia Zia Naura, Lahir 7 Desember 2008, TK-A ArRohmah Putri Dau No. Rekening Tabungan : BCA Dinoyo : 3150753987 BMI ( Muamalat ) : 0223102477 Kendaraan yg dipakai : Suzuki smash FK110 SDK6, AG-6758 DH. Th.2006 – 2012, Kendaraan Sekarang: TVS(NEO 110) N5931JJ Kesehatan : Baik, tidak buta warna dan tidak cacat fisik. Golongan darah : - Tinggi/Berat : 164/ Pengalaman Kerja : 1. Guru Prifat : Pondok Pesantren Mahasiswa ( Pesma ) Al- Istiqomah da. Joyoraharjo Lowokwaru Malang. Mata pelajaran Bahasa Arab ( Nahwu & Shorof ) Th 1998 – 2001. 2. Tim Da’I / Mubaligh Yayasan NIDAUL FITRAH Surabaya Th. 2001-2002 3. Bisnis Pulsa, HP, accecoris th dll 2002-2007. Di Pekalongan Jateng 4. Jualan Mebel ( Bantu Saudara & ortu ) th. 2006 5. Karyawan Pabrik Meubel “MBM” Pandaan-Pasuruan, April-Mei 2007 6. Marketing Kavling Tanah siap bangun, Milik Baitul Maal Hidayatullah ( BMH ) Malang di Lawang. Mei-Desember 2007. sesuai target 8 bulan habis 47 Kavling 7. Januari 2008 - Februari 2010 Marketing, Fundrising & Team Da’I BMH Malang 8. November 2009-Februari 2010 Unit Usaha, Koperasi Karyawan & Team Da’I BMH Malang 9. Distributor/Agen/Member jaringan bisnis Makanan Organik Melilea Internasional. Sejak Desember 2007. beberapa kali training di Jakarta, dan tourfund di/ke Malaysia, 5 – 9 desember : 5 Desember 2009 : Pesawat Airline, Jakarta-Kuala Lumpur (LCCT) 6 Desember 2009 : Hotel Cititel MID Valley Hotel Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur 7 Desember 2009 : Genting Highland Kuala Lumpur 8 Desember 2009 : Genting Highland Fullday Tour 9 Desember 2009 : Genting highland ke Jakarta 10. Th. 2010 Mulai bulan Juni, di Lembaga Zakat), yang bermitra dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Dhuafa Jakarta. Sampai Desember 2012 http://baitulmaalassalam.wordpress.com 11. Januari- Maret 2013 di Jaringan Magistra goup/ Langit tujuh group. Pimpinan DR.H.Imam Muhajirin Elfahmi, SH, SPd, MM. April 2013 di www.bmh.or.id Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) BMH Malang. Web. http://www.bmhberbagisenyum.blogspot.com/ http://bmhdakwah.blogspot.com/2013/07/ Kegiatan Sosial : Sejak Juni 2010- maret 2013 : Tinggal di Yayasan Ulil Abshor. Ikut mendampingi anak2 panti asuhan ulil abshor. Demikian sekilas riwayat hidup / cv kami. Untuk menjadi tambah kuatnya silaturrahim, dan pertemanan. SALAM Hormat……… Makinuddin, Email / facebook : makin.udin@yahoo.co.id, akun fb saya yang kedua ini atas nama : "makinuddin Ihsan" email akun FB ke-2 : makin.udin70@yahoo.com https://catatanmakinudin.wordpress.com update per Senin, 25 Mei 2014
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s