Kalemdikpol Komjen Oegroseno : Indonesia Butuh Polisi Bermoral Dan Profesional

WAWANCARA EKSKLUSIF

Dimuat juga di Blog INDONESIAKATAKAMI.WORDPRESS.COM

Komjen Oegroseno : Dalam Bertugas Polisi Harus Tegas, Jelas, Terukur, Adil dan Beradab

Menunggu Pergantian Kepala BNN Yang Mampu Bekerjasama dengan Kepolisian 

 Jakarta, 9 November 2012 (KATAKAMI.COM)  — Belakangan ini ramai dibicarakan kontroversi tarik menarik antara para penyidik Polri yang ditugaskan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Salah satu yang menjadi fokus perhatian masyarakat adalah kesenjangan angka pendapatan (gaji) antara penyidik Polri yang bekerja di institusinya sendiri dengan para penyidik Polri yang diperbantukan di KPK. 

Sebagian besar para penyidik Polri memilih untuk tetap “mengabdi” di KPK walau masa tugasnya sudah berakhir. Tetapi pekan lalu, 5 penyidik Polri yang bertugas di KPK memutuskan untuk mengundurkan diri.

KATAKAMI.COM melakukan wawancara eksklusif dengan Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno mengenai suka duka kehidupan polisi, termasuk membahas mengenai perbedaan tingkat kesejahteraan antara penyidik Polri yang diperbantukan di KPK dan yang bekerja di isntitusi Polri sendiri.

Wawancara dilakukan di ruang kerja Oegroseno, di Lemdikpol Jalan Ciputat Raya Jakarta Selatan. Ini hasil wawancara kami dengan Kalemdikpol Komjen Polisi Oegroseno :

 

Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno

 

KATAKAMI (K)  :   Baru-baru ini muncul kontroversi tentang sejumlah penyidik Polri yang diperbantukan ke KPK, tidak mau kembali ke institusi asal. Tetapi walaupun ada yang memutuskan untuk tetap di KPK dengan gaji yang teramat besar, pekan lalu ada 5 penyidik Polri yang memutuskan untuk kembali ke Polri untuk melanjutkan karier profesionalnya. Khusus untuk para penyidik Polri yang lebih memilih bergaji besar di KPK, muncul pertanyaan … kok mental dari anggota kepolisian jadi “mata duitan” seperti itu ? Bagaimana tanggapan Pak Oegroseno :

 

OEGROSENO (O)  :  Kalau saya menilainya … kembali kepada diri masing-masing. Kalau dikumpulkan semua cita-cita ingin masuk ke Akademi Kepolisian … Brigadir juga sama … Tamtama juga sama … yaitu mengabdi kepada bangsa dan negara Republik Indonesia melalui Polri.

Jadi bukan mengabdi kepada Polri lho.

Tetapi mengabdi kepada negara sebagai aparat negara melalui Polri.

Cita-cita ini harus dibawa terus. Idialisme ini harus dibawa terus. Tidak boleh luntur !

Kalau cita-cita ini sudah diniati dari awal, maka idialisme itu tidak boleh luntur di tengah jalan. Dari awal kan sudah tahu kalau masuk polisi it ya gajinya kecil.

Kalau dari awal dia sudah tahu bahwa gaji di kepolisian itu kecil, ya jangan masuk polisi !

Idialisme ini yang mulai luntur. Mungkin karena lihat lingkungan …. lihat kiri kanan … kawannya sudah punya mobil, sementara dia belum.

 

(K)  :  Kalau misalnya muncul pertanyaan dari anggota kepolisian yang tidak tahan dengan kehidupan yang pas-pasan di Polri, oh itu teori … sebab pada kenyataannya hidup ini bergerak dinasmis. Segala sesuatu membutuhkan biaya sehingga uang sangat menentukan arah dan kualistas hidup. Bagaimana tanggapan Pak Oegro ?

 

(O)  : Itulah makanya saya selalu mengatakan di Lembaga Pendidikan ini, kita harus ingat bagaimana Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Apakah dia minta tank ? Apakah dia minta panser dan senjata ? Ternyata cukup dengan keris untuk membela Negara Kesatuan Republik Indonesia agar bisa meraih kemerdekaan. Dan akhirnya kita bisa merdeka.

Jenderal Soedirman … apakah minta ambulance karena sakit ? Apakah minta kendaraan berat untuk bisa berperang ? Tidak ada ! Ternyata cukup dengan 2 kayu, kasih kursi dan ditandu …. beliau tetap berjuang.

Nah, nilai-nilai itu yang kita bangun !

Yos Sudarso, sudah jelas kalau melawan Belanda pasti akan konyol. Tapi sifat kepahlawanannya muncul. Dengan kondisi kapal yang seperti ini pasti tenggelam. Beliau meninggal di laut Indonesia.

Maka itulah yang saya tanamkan kepada bayangkara, kebanggaan kita adalah kalau kita meninggal dalam tugas.

Kalau meninggal setelah pensiun dan karena sakit, itu meninggal biasa. Tapi kalau meninggal dalam tugas, itu meninggal dalam tugas … itu luar biasa ! Sebab itu akan diupacarakan dengan upacara kebesaran, diangkat oleh kawan-kawannya, diberikan tembakan salto dan diserahkan kepada pangkuan ibu pertiwi.

Makanya kalau ada anggota polisi yang merasa bahwa dengan gaji yang didapat dari kepolisian ini tidak bisa mencukupi seluruh kebutuhannya, ya silahkan keluar saja dari kepolisian ! Selesailah. Dengan cara begitu, dia bisa cari pekerjaan lain diluar.

Makanya saya tekankan juga, kalau ingin jadi orang kaya maka jangan pernah berpikir jadi Polisi.

Lalu, kalau ingin jadi Polisi, jangan pernah berpikir jadi orang kaya !

 

Oegroseno, mengenakan rompi hitam dan bertopi, saat menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara, turun langsung ke lapangan mengejar pelaku-pelaku kasus perampokan Bank CIMB Medan.

 

 

(K)  :   Apa yang akan dilakukan Lemdikpol agar idialisme dari para anggota kepolisian tetap terjaga dengan baik ?

 

(O)  :  Kalau menurut saya, fungsi pengawasan harus diperkuat di Kepolisian ini.

 

(K)  : Artinya, Divisi Propam (Profesi dan Pengamanan) yang harus dioptimalkan pengawasannya ?

 

(O)  : Ya betul, Propam harus dioptimalkan. Sama Irwasum. Keduanya harus kuat. Coba lihat di Amerika sana, kalau polisi berbohong saja langsung dipecat karena melanggar Court of Conduct. Melanggar kode etik.

Sebab Polisi adalah mata, telinga, mulut dan hati nuraninya harus sama dan harus bisa dipertanggung-jawabkan.

Kalau polisi saja sudah tidak bisa dipertanggung-jawabkan, siapa lagi aparat penegak hukum dan aparat keamanan yang bisa mengawal bangsa dan negara ?

Jadi sekali lagi, fungsi pengawasan harus ditingkatkan.

 

(K)  :  Anggota kepolisian banyak, ada sekitar 300 ribu. Bagaimana mau diawasi kalau anggotanya saja sudah sebanyak itu ?

 

(O)  :  Ya, sama seperti memberantas korupsi. Mau diberantas seluruhnya kan sulit, yang besar-besar dulu dong.

Jadi penyelenggara dulu yang dibabat !

Kalau diberantas dari hulu ke hilir ya … kapan mau tidur ?

Kalau yang dibawah-bawah melihat bahwa penyelenggara ditindak, mereka akan melihat. Jadi, efeknya yang harus kita lihat.

 

(K)  :  Apa Pak Oegro bisa berbagi pengalaman yang dilakukan selama ini dalam menjaga idialisme tadi ?

 

(O)  :  Idialisme itu harus dijaga sampai kapanpun. Bahkan dalam amanatnya saat menutup Prasetya Perwira di Magelang bulan Juli lalu, Presiden berpesan agar tetap dipelihara dan dijaga idialisme !

Idialisme itu harus dijaga. Kalau sudah masuk dan memilih menjadi aparat negara, idialisme itu harus dijaga.

Kalau memang tidak sanggup beli mobil mewah, kenapa harus malu ?

Saya lebih senang kalau perwira polisi itu naik bis kalau berangkat ke kantor supaya bisa bergabung dengan masyarakat. Kenapa harus memaksakan diri membawa mobil pribadi ?

Saya berani bercerita begini karena sayapun mengalami. Saya berangkat ke kantor naik bis.

Saya lulus PTIK berpangkat Kapten. Kalau saya tidak punya duit, apakah saya harus nyuri ? Apakah saya harus merampok ? Oh tidak !

Saya bantu teman saya untuk menjaga showroom. Saya pernah jaga showroom. Saya tidak mengorbankan pakaian dinas. Lepas dinas, karena tidak ada pekerjaan … saya jaga showroom.

Atau mencangkul di belakang asrama. Saya menanam pepaya.

Tiap bulan, kalau sudah sampai tanggal 15, kami sudah tidak punya duit. Pak Nanan (Wakapolri Nanan Soekarna)  … sama juga nasibnya dengan saya dulu. Kami sama-sama tidak punya duit. Kami cari pepaya muda untuk dibuat jadi sayur. Lalu beras jatah jangan dijual. Dulu kami dapat beras jatah 18 kilo. Istri dapat 10 kg. Cukup itu ….

Jangan mudah terpengaruh, wah kok kawan saya mobilnya mewah … saya juga ingin punya mobil mewan. Ya, jangan begitu !

Sampai sekarangpun, idialisme harus tetap dijaga.

Kalau sekarang banyak kawan dan kenalan, ya itu karena faktor usia. Usia di diri kita bertambah, usia dinas di polisi bertambah, kawan dan komunikasi kita juga bertambah banyak. Kita bisa menikmati hidup.

Tapi polisi manapun tidak akan bisa jadi milyarder.

 

(K)  :  Baik Pak Oegro, apa yang bisa Bapak sampaikan untuk para penyidik Polri, baik yang bertugas di KPK, ataupu yang bertugas di Polri ?

 

(O)  :   Jangan ingin jadi orang kaya ! Jadilah penyidik yang profesional.

 

Dengan IT, kita butuh dana berapa ? Kalau nanti sistem penyidikan sudah online, polisi dan jaksa online, kita tidak perlu bawa berkas banyak-banyak. Sekarang kan belum ada perubahan, masih manual. Harusnya penyidikan itu paperless.

Kalau sistem penyidikannya online, tidak akan ada yang bisa merubah pasal sebab IT punya rekaman, ada recordnya.

Kalau mau melakukan penangkapan, kan tidak harus langsung berangkat. Kontak polisi disana pakai email atau chatting. “Tolong bantu, saya cari DPO yang namanya ini, yang beralamat disini. Nanti kalau sudah ditangkap disana, tolong tangkap, ini dasar surat perintah  penangkapan dari kita sudah ada.  Kalau sudah ditangkap, taruh 1 x 24 jam. Polisi bisa menaruh 1 x 24 jam … dijemput, ambil. Oh iya memang betul. Kan penyelidik menghadapkan kepada penyidik boleh dalam kurun waktu 1 x 24 jam.

Saya rasa KUHAP yang karya agung ini sudah mengatur semua itu tapi kita tidak mendalami.

Mencari orang belum jelas, tim sudah berangkat. Ya itu memakan biaya yang besar !

Sekarang ini kalau mau menangkap orang, cukup lewat cyber dong. Kita sudah dikasih dunia maya untuk bisa berselancar kemana-mana, kan begitu istilahnya. Jadi biaya negara bisa di irit.

 

(K)  :  Pak Oegro, anda sekarang sudah bintang 3 dengan jabatan sebagai Kalemdikpol. Kalau sekarang ditanya, apakah bekerja sebagai polisi itu cukup membanggakan ?

 

(O)  :  Kalau buat saya … saya bangga jadi polisi.

Saya ini dicalonkan masyarakat Sumatera Utara untuk jadi Gubernur Sumut. Tapi saya katakan, sisa pengabdian saya yang terakhir di Polisi selama 2 tahun ini akan saya selesaikan di Kepolisian.

Masyarakat Sumut mengharapkan saya mau jadi Gubernur Sumut karena saya pernah jadi Kapolda Sumut.

Tapi saya tidak mau mengambil kesempatan itu karena saya ingin menyelesaikan tugas saya di Kepolisian. Saya ingin menyelesaikan tugas saya di Kepolisian ini dengan sebaik-baiknya.

Sebab saya bangga jadi polisi.

Dan kalau menurut saya, Indonesia ini membutuhkan polisi yang bermoral, baru setelah itu profesional. Daripada polisi profesional tapi tidak bermoral.

 

(K)   :   Jumlah banyak atau tidak itu, polisi yang profesional tapi tidak bermoral ?

 

(O)  :  Ya … mungkin ada tapi saya tidak mau mengatakannya sekarang.

 

(K)  :  Baik, terimakasih Pak Oegro untuk wawancara ini.

 

 

MS

Tentang interpreneur 2012

Curiculum Vite / Ikhtisar Riwayat Hidup Nama Lengkap : Makinuddin Nama Panggilan : Makin Alamat rumah tinggal : Jl. Gotongroyong RT04 RW02 Jetakngasri MulyoAgung-Dau- Malang Alamat KTP : Jl. KH. Hasyim Asy’ari VI/1386. RT 06 RW 05 Kauman Klojen-Malang Telp & HP : 0877.5961.0020/ 0852-3496-4872 & 0341-8441973 Nama Orang tua : Moch. Ihsan (Alm) & Siti Halimah Alamat Orang tua : RT 03 RW 01 Juwah Siman Kepung-Kediri Susunan Keluwarga : Anak ke-6 dari 7 bersaudara : 1. Moch. Ishom,MPd 2. Miftakhurrohmah : Guru SDN Catak Gayam Mojowarno-Jombang 3. Nikmatur Rofi’ah : Guru TK di Kayen Lor Papar-Kediri 4. Moch. Imron,Drs : Guru MTS Nabatul Ulum Kediri. Pedagang 5. Tsamrotul Fiqoyah : Swasta di Kediri 6. Makinuddin : - 7. Ibnu Mundzir,SS : Guru PNS MAN Godang Legi, Dosen UIN-Malang Tempat, Tanggal lahir : Kediri, 01 November 1973 Bahasa yang di kuasai : Indonesia, jawa ngoko, Arab ( Membaca, sedikit lisan dan tulisan) Agama/Suku/Warga : Islam/Jawa/Warga Negara Indonesia NPWP : 25.427.693.4-652.000 No. K.T.P /dikeluarkan : 3573.020111.73 0006/pemkot Dati II Malang Maret 2009 No. S.I.M.C /dikeluarkan : 73111.525.0909/polresta Malang Oktober 2012 No. S.I.M.A /dikeluarkan : 73111.525.0922/polresta Malang Desember 2012 No. Paspor /dikeluarkan : T-966669 / Imigrasi Malang Oktober 2009 Status Pernikahan : Menikah, ( Istri: Miftakhul Karomah,SAg ) Dengan 4 anak: 1. Alif Abd. Rohim, 13 Oktober 2002, 2. Syifa Nazzila A., 15 Agustus 2003, kelas V SD ArRohmah Sumbersekar-Dau 3. Khilfa Wajihan A., 12 September 2004, kelas III SD Alam ArRohmah Putri Dau 4. Tudhia Zia Naura, Lahir 7 Desember 2008, TK-A ArRohmah Putri Dau No. Rekening Tabungan : BCA Dinoyo : 3150753987 BMI ( Muamalat ) : 0223102477 Kendaraan yg dipakai : Suzuki smash FK110 SDK6, AG-6758 DH. Th.2006 – 2012, Kendaraan Sekarang: TVS(NEO 110) N5931JJ Kesehatan : Baik, tidak buta warna dan tidak cacat fisik. Golongan darah : - Tinggi/Berat : 164/ Pengalaman Kerja : 1. Guru Prifat : Pondok Pesantren Mahasiswa ( Pesma ) Al- Istiqomah da. Joyoraharjo Lowokwaru Malang. Mata pelajaran Bahasa Arab ( Nahwu & Shorof ) Th 1998 – 2001. 2. Tim Da’I / Mubaligh Yayasan NIDAUL FITRAH Surabaya Th. 2001-2002 3. Bisnis Pulsa, HP, accecoris th dll 2002-2007. Di Pekalongan Jateng 4. Jualan Mebel ( Bantu Saudara & ortu ) th. 2006 5. Karyawan Pabrik Meubel “MBM” Pandaan-Pasuruan, April-Mei 2007 6. Marketing Kavling Tanah siap bangun, Milik Baitul Maal Hidayatullah ( BMH ) Malang di Lawang. Mei-Desember 2007. sesuai target 8 bulan habis 47 Kavling 7. Januari 2008 - Februari 2010 Marketing, Fundrising & Team Da’I BMH Malang 8. November 2009-Februari 2010 Unit Usaha, Koperasi Karyawan & Team Da’I BMH Malang 9. Distributor/Agen/Member jaringan bisnis Makanan Organik Melilea Internasional. Sejak Desember 2007. beberapa kali training di Jakarta, dan tourfund di/ke Malaysia, 5 – 9 desember : 5 Desember 2009 : Pesawat Airline, Jakarta-Kuala Lumpur (LCCT) 6 Desember 2009 : Hotel Cititel MID Valley Hotel Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur 7 Desember 2009 : Genting Highland Kuala Lumpur 8 Desember 2009 : Genting Highland Fullday Tour 9 Desember 2009 : Genting highland ke Jakarta 10. Th. 2010 Mulai bulan Juni, di Lembaga Zakat), yang bermitra dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Dhuafa Jakarta. Sampai Desember 2012 http://baitulmaalassalam.wordpress.com 11. Januari- Maret 2013 di Jaringan Magistra goup/ Langit tujuh group. Pimpinan DR.H.Imam Muhajirin Elfahmi, SH, SPd, MM. April 2013 di www.bmh.or.id Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) BMH Malang. Web. http://www.bmhberbagisenyum.blogspot.com/ http://bmhdakwah.blogspot.com/2013/07/ Kegiatan Sosial : Sejak Juni 2010- maret 2013 : Tinggal di Yayasan Ulil Abshor. Ikut mendampingi anak2 panti asuhan ulil abshor. Demikian sekilas riwayat hidup / cv kami. Untuk menjadi tambah kuatnya silaturrahim, dan pertemanan. SALAM Hormat……… Makinuddin, Email / facebook : makin.udin@yahoo.co.id, akun fb saya yang kedua ini atas nama : "makinuddin Ihsan" email akun FB ke-2 : makin.udin70@yahoo.com https://catatanmakinudin.wordpress.com update per Senin, 25 Mei 2014
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s